Pages

Tampilkan postingan dengan label Fakta Unik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fakta Unik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 November 2012

Uniknya MEDAN BUNG !!!!

               Siapa sih yang gak kenal Medan? Kota terbesar di luar pulau jawa atau kota terbesar ke tiga setelah Jakarta dan Surabaya. Kalo dengar kota Medan, apa yang anda pikirkan?  Batak, Durian, Jeruk, Keras, Horas, Danau Toba dll. Nah nah,kesuksesan Medan ini pun sebenarnya tak lepas dari dukungan daerah di sekitarnya, walau nama daerah itu sering terbaikan, layaknya “Lembu punya Susu, Sapi punya nama”, Owow, bahkan anda bisa miss communication karena beberapa bahasa Medan, ditekanin ya Bahasa Medan, Bukan Bahasa Batak yang beda dengan bahasa nasional kita, Indonesia. Nih dia, fakta unik tentang Medan yang mungkin anda belum tau atau bahkan anda selama ini telah terlalu lama keliru..

“Kesalahan terbesar anda memvonis Medan asalnya Orang Batak”
X: Asal dari Mana Mas?
Y: Medan
X: Marga apa bang?
Y: Engg, aku Orang Melayu.. #Failed

                 Ini dia, jadi jika seseorang mengaku berasal dari Medan, maka orang” akan menanyakan marga atau minimal nanya,”orang batak ya?” Datanglah sekali ke Medan kawan, tidak semudah itu menemukan orang Batak disana, dari data BPS, malah Penduduk Medan itu suku Jawanya paling banyak sedikit menyusul Batak , belum lagi Tionghoa, Aceh, Minangkabau, Nias dan India. Belum juga suku pendatang lainnya, bahkan Medan itu dulunya adalah Tanah Deli, yang dalam artian penduduk asli Medan adalah Suku Melayu. Bisa dibilang Suku Melayu Medan semacam Betawi nya Jakarta. Pasti anda sudah paham dengan maksud saya..

                   Nah, pertanyaannya mengapa terjadi pradigma seperti di atas.? Menggeneralisir Medan itu dengan batak adalah kesalahan terbesar karena Medan adalah Kota Multikultural dan Penduduk aslinya adalah Melayu, Liat saja Istana Maimun yang berdiri kokoh di Pusat kota. Sebenarnya tidak bisa disangkal orang beranggapan Medan dengan Bataknya, karena Orang Batak yang sebenarnya berasal dari daerah Tapanuli dan Tanah Karo itu bangsa perantau, mereka banyak sukses di Perantauan baik jadi pejabat dan pengusaha, artis, pengacara tentu juga supir angkot.Hehe
                    Jika ditanya asal mereka dari mana, maka dengan lantangnya mereka jawab dari Medan, walau bisa saja mereka itu Batak Tembak Langsung yang bahkan tidak pernah tinggal di kota Medan. Alasannya apa, karena Medan memang sudah terkenal dan ibu kota. Kedua, biasanya bukan karena mereka malu loh ngaku dari Tapanuli, Balige, Sidempuan, Samosir dan daerah lainnya, tapi untuk menghemat pembicaraan dan menghindari mulut berbusa menjelaskan di Mana itu Sidikalang. Begitulah sampai menjadi tradisi hingga hanya Medan sendiri yang punya nama dan daerah mereka “Bonapasogit” tidak dikenal. Miris memang. Oh iya, Asala mula orang Jawa dan Tionghoa terdampar disini saat Belanda memperkerjakan mereka di Perkebunan di Sumut.
                   Jadi kawan, Medan itu layaknya Miniatur Indonesia, beragam suku, agama hidup berdampingan dan sangat jarang terjadi pertikaian. Kemarilah, maka anda di satu angkot bisa mendengar orang lagi berbahasa Chinese serasa di Taiwan, berbahasa Batak serasa di Tapanuli, berbahasa Jawa, Padang ataupun Aceh, dan juga bahasa Medan. Gak semua juga orang Medan itu  keras, kasar atau apalah, dan jangan terlalu cepat menyimpulkan orang Medan orang batak dari pada anda Malu atau tidak enakan jika anda salah..

                        Oh iya, satu lagi. Kalo udah denger Batak ataupun Medan otomatis orang menduga dia adalah Kristen. Itulah kesalahan terbesar kedua anda. Survey membuktikan sekitar 60% orang Medan adalah Muslim. Gak enak banget kan klo pas kejadian kita salah duga apalagi masalah yang privasi seperti ini. Mending bertanya daripada memastikan ataupun melayangkan pertanyaan retoris yang totally wrong. Nah, ini berimbas ke Batak tadi yang sering digeneralisir dengan Kristen. Oh iya, Batak itu banyak loh sub suku nya kayak Toba, simalungun, Karo, Pakpak,Sidempuan, Angkola. Tidak seperti jawa tengah dan jawa timur, walau bahasa sedikit berbeda tapi masih bisa saling mengerti lah, nah kalau orang Batak  Toba ngomong dengan Batak Karo, give up lah, kaya di Planet Mars aja. Tapi begitulah, mereka sudah terlanjur menamai diri mereka dengan batak walau kadang pake embel-embel sub suku itu.

X: Aku orang batak loh..
Y: Marga apa?
X: Sinaga
Y: Kalo Sinaga Kristen ya? Kalo NAsution Muslim bukan Kalo NApitupulu..

            
             Nah, ini nih aku yang paling annoying banget, menggeneralisir Batak dengan Kristen bahkan mengkastakan marga dengan agama. Marga ya marga, Agama ya agama. Batak itu bawa lahir, tidak bisa diganggu gugat karena darah Batak sudah mengalir di tubuhnya, Batak Lahir maka Matinya pun Batak sedangkan Agama itu hakiki, pilihan Hidup bisa saja lahir dan mati nya seseorang menganut agama yang berbeda..
So dapat dua Poin ya, Medan itu bukan Batak dan Kristen tapi Medan Kota Multikultural
Makasih.. Lihat lah gedung pemerintahan Medan, ada yang bercorak Melayu, Karo, Batak Toba.. Unik Kan......

            Oh iya, jalan jalan ke medan, Sampai kiamat anda tidak akan menemukan Jeruk Medan seperti di Jakarta atau daerah lain, Tapi Jeruk Berastagi, Kota Buah asal Jeruk, markisa dan terong Belanda. Dan Durian itu asalnya banyak dari Sidikalang maupun Tarutung atau langkat.. Hahahah
Oh ya, Saya tidak bermaksud Rasis, SARA atau memojokkan suku atau agama apapun, tapi saya hanya berusaha mengclearkan..
copy right http://princeofporsea.blogspot.com

Keunikan suku dayak


"Konon, Sumpit Dayak Lebih Ditakuti daripada Peluru"



Konon, Sumpit Dayak Lebih Ditakuti daripada Peluru
hy mas bro, kalian pernah lihat sumpit? yang pernah lihat baguslah tapi yang belum lihat kasihan banget sih kamu. Tau ngga bahwa sumpit orang-orang dayak lebih ditakuti dari pada peluruh, alkisah-pada zaman penjajahan di Kalimantan dahulu kala, serdadu Belanda bersenjatakan senapan dengan teknologi mutakhir pada masanya, sementara prajurit Dayak umumnya hanya mengandalkan sumpit. Akan tetapi, serdadu Belanda ternyata jauh lebih takut terkena anak sumpit ketimbang prajurit Dayak diterjang peluru.
Penyebab yang membuat pihak penjajah gentar itu adalah anak sumpit yang beracun. Sebelum berangkat ke medan laga, prajurit Dayak mengolesi mata anak sumpit dengan getah pohon ipuh atau pohon iren. Dalam kesenyapan, mereka beraksi melepaskan anak sumpit yang disebut damek.
“Makanya, tak heran penjajah Belanda bilang, menghadapi prajurit Dayak itu seperti melawan hantu,” tutur Pembina Komunitas Tarantang Petak Belanga, Chendana Putra, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kamis (2/6/2011).
Tanpa tahu keberadaan lawannya, tiba-tiba saja satu per satu serdadu Belanda terkapar, membuat sisa rekannya yang masih hidup lari terbirit-birit. Kalaupun sempat membalas dengan tembakan, dampak timah panas ternyata jauh tak seimbang dengan dahsyatnya anak sumpit beracun.
Tak sampai lima menit setelah tertancap anak sumpit pada bagian tubuh mana pun, para serdadu Belanda yang awalnya kejang-kajang akan tewas. Bahkan, bisa jadi dalam hitungan detik mereka sudah tak bernyawa. Sementara, jika prajurit Dayak tertembak dan bukan pada bagian yang penting, peluru tinggal dikeluarkan. Setelah dirawat beberapa minggu, mereka pun siap berperang kembali.
Penguasaan medan yang dimiliki prajurit Dayak sebagai warga setempat tentu amat mendukung pergerakan mereka di hutan rimba.
“Karena itu, pengaruh penjajahan Belanda di Kalimantan umumnya umumnya hanya terkonsentrasi di kota-kota besar tapi tak menyentuh hingga pedalaman,” Chendana.
Tak hanya di medan pertempuran, sumpit tak kalah ampuhnya ketika digunakan untuk berburu. Hewan-hewan besar akan ambruk dalam waktu singkat. Rusa, biawak, atau babi hutan tak akan bisa lari jauh. “Apalagi, tupai, ayam hutan, atau monyet, lebih cepat lagi,” katanya.
Bagian tubuh yang terkena anak sumpit hanya perlu dibuang sedikit karena rasanya pahit. Uniknya, hewan tersebut aman jika dimakan. “Mereka yang mengonsumsi daging buruan tak akan sakit atau keracunan,” kata Chendana.
Baik hewan maupun manusia, setelah tertancap anak sumpit hanya bisa berlari sambil terkencing-kencing.
“Bukan sekadar istilah, dampak itu memang nyata secara harfiah. Orang atau binatang yang kena anak sumpit, biasanya kejang-kejang sambil mengeluarkan kotoran atau air seni sebelum tewas,” tambah Chendana .
copy right bulekke.com

Rabu, 31 Oktober 2012

Kota Medan Tercinta


Mengenal Kota Medan

Sebagai ibukota dari Propinsi Sumatra Utara dan kota terbesar ketiga di Indonesia, Medan merupakan campuran yang sempurna dari beberapa suku dan budaya, karena di kota ini didapati beberapa suku, suku Aceh, suku Padang, suku Melayu dan suku Batak. Demikian pula keturunan Cina banyak berdiam di kota ini sejak zaman Belanda, menyebabkan kota ini semakin kaya dengan budayanya. 

Medan MosqueBelawan adalah pelabuhan yang penting di kota Medan yang dari sini kita bisa dengan mudah berlayar ke Penang, Malaysia. Medan memiliki penduduk yang padat dan merupakan tempat yang eksotis untuk dikunjungi khususnya jika anda menyukai alam flora dan fauna. Medan juga merupakan pintu gerbang menuju Danau Toba, danau terbesar di Asia Tenggara, dan Bukit Lawang, tempat konservasi Orang Hutan. 

Terdapat dua musim di Medan, Musim Hujan dan Musim Kemarau. Dari bulan November sampai bulan Mei adalah Musim Hujan, sedangkan dari bulan Mei sampai Oktober adalah Musim Kemarau. Medan dapat dicapai dengan mudah dengan pengangkutan udara. Di airport Polonia penerbangan internasional rutin mendarat setiap hari. 

Terdapat juga pengangkutan kereta api ke kota-kota di sekitar Medan dan Sumatra Utara. 

Objek Wisata di Medan
Di Medan, terdapat beberapa tempat menarik bagi para turis. Misalnya Istana Maimoon, Mesjid Raya dengan arsitekturnya yang unik, Museum Sumatra Utara, Pusat Kesawan, Peternakan Buaya, Kebun Binatang Medan, bangunan antik yang indah Balai Kota dan Kantor Pos Pusat, Menara Air dan sebagainya. 

Salah satu bangunan yang paling menarik di kota ini adalah Istana Maimoon, istana antik yang dibangun pada tahun 1886. Walaupun sekarang menjadi museum, Istana ini adalah bekas istana resmi Kesultanan Deli. Mesjid Raya yang indah dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1906. Dengan atap berwarna hitam dan berbentuk kubahan yang indah, mesjid ini kelihatan sangat unik dan menarik. Mesjid ini juga merupakan salah satu contoh bangunan dengan gaya Moor. Kebanyakan bahan bangunan mesjid ini pada waktu itu diimpor dari luar. Bahan kaca di mesjid ini pada waktu itu diimpor dari Cina, lampu kristalnya berasal dari Amsterdam dan marmer yang digunakan berasal dari Itali. 

Di Musium Militer di Medan didapati banyak koleksi senjata antik yang digunakan pada waktu zaman perang kemerdekaan. Musium ini sangat menarik untuk dikunjungi bagi siapa saja yang menaruh minat pada sejarah perang kemerdekaan. Peternakan buaya di Medan adalah yang terbesar di daerah ini, di sini dapat pula disaksikan proses sebuah telur buaya menetas. Ada sekitar dua ribu jenis buaya yang dapat dilihat di peternakan ini. Pengunjung yang tertarik akan proses kehidupan suatu bentuk makhluk akan mendapatkan pengalaman yang berharga dengan mengunjungi tempat ini. 

Daerah pertokoan Kesawan diperbaharui di tahun 2002. Di sini sekarang terdapat pusat restoran open air yang terbaru di Medan. Pertokoan Kesawan didirikan pada zaman Belanda dan di sini masih terdapat beberapa bangunan lama yang cukup menarik. 

Danau Toba terdapat tidak jauh dari kota Medan, sekitar 2 jam perjalanan dengan kendaraan. Danau ini merupakan danau yang indah dan terbesar di Asia Tenggara, karena itu merupakan tempat favorit para turis. Danau Toba konon terbentuk setelah meletusnya sebuah gunung vulkanik raksasa kuno. Kawah gunung ini konon menjadi Danau Toba sekarang ini. Di tepi danau ini terdapat Kota Parapat, yang memiliki hotel dan villa-villa penginapan. Bangunan tempat Kantor Pengadilan Tinggi dan Bank Indonesia di kota Medan adalah salah satu contoh bangunan dengan gaya arsitek Eropah. 

Peta Kota Medan
 
Map data ©2012 Google, MapIT, Tele Atlas - Terms of Use 


Sejarah Kota Medan
Sejarah kota Medan juga amat menarik. Pada zaman Belanda, Medan masih merupakan daerah kekuasaan Sultan Deli. Suku Melayu yang ada di Indonesia berasal dari kota Medan dan daerah sekitarnya. Suku ini memiliki banyak kesamaan budaya dengan bangsa Melayu di tanah Malaysia sekarang, karena berasal dari rumpun yang sama. 

Medan banyak dikunjungi para turis dari seluruh dunia. Para turis yang mengunjungi Indonesia umumnya akan mengunjungi kota Medan paling tidak sekali. Keragaman budaya dari tempat ini merupakan daya tarik yang utama. Beraneka macam suku terlihat di kota ini, campuran berbagai budaya yang terlihat di sini, dan perkembangan dari beraneka seni menjadikan tempat ini kaya akan kasliannya. Hutan tropisnya, sawah dan padi, danau vulkanik yang misterius dan pantai yang eksotis menambah menarik tempat ini. Ini adalah sebab mengapa Medan amat popular bagi para turis. 

Minggu, 28 Oktober 2012

Fakta tentang INDONESIA


17 Agustus tanggal Merdeka dan wafatnya Pencetus Bahasa Indonesia dan Pencipta Lagu Kebangasaan
 Bila 17 Agustus menjadi tanggal kelahiran Indonesia, justru tanggal tersebut menjadi tanggal kematian bagi pencetus pilar Indonesia.
Pada tanggal itu, pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, WR Soepratman  (wafat 1937) dan pencetus ilmu bahasa Indonesia,Herman Neubronner van der Tuuk  (wafat 1894) telah meninggal dunia.